Pages

Cara Mencapai Kebahagiaan dan Kemakmuran Hati

Sabtu, 12 Oktober 2013

 

 

clip_image001
 

 

 

 

 

 

 


Apa yang dikatakan oleh Robert G. Ingersoll di atas setidaknya pada saat ini sudah menjadi sifat sebagian manusia. Lihatlah bagaimana seorang Akil Muchtar, kedudukan sebagai ketua MK dengan gaji yang sangat besar belum menjamin Akil Muchtar untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak sepantasnya. Dia masih diperbudak oleh harta, dan tentunya bukan saja Akil Muchtar yang berprilaku demikian tetapi juga kita semua tidak terkecuali saya.

 

Pengaruh harta atas diri kita dapat sesuatu yang disadari dan yang tidak disadari. Yang disadari seperti melakukan prilaku yang disengaja walaupun aturan hukum dan berdasarkan adat kebiasaan yang terjadi serta larangan dari ajaran agama kita ketahui tetapi tetap saja melakukannya. Sedangkan yang tidak disadari adalah prilaku yang tidak kita ketahui dasar hukumnya namun ternyata prilaku tersebut menyimpang, yang tidak disadari inilah yang sangat berbahaya yang selalu membuat kita buta terhadap kondisi sosial yang bernilai kebenaran.

 

Prilaku menyimpang awalnya terjadi akibat keinginan untuk hidup bahagia, lemahnya kontrol atas diri kita, kurangnya keimanan serta kurangnya rasa syukur atas harta yang kita miliki telah membuat kita menjadi orang yang diperbudak oleh harta. Dalam kondisi ini harta telah memiliki kita, harta telah membatasi kebebasan kita, harta telah merenggut nurani dan sifat manusia kita. Akibatnya, kepuasan yang dilandasi oleh rasa syukur berganti menjadi kebuasan memperturut hawa nafsu. Semua harta milik kita seakan menjadi kurang, kebutuhan tidak terpenuhi, menumpuk harta menjadi kebiasaan tanpa mempedulikan sumber harta yang kita dapatkan.

 

Dapatlah kita lihat betapa banyaknya diantara kita dan mungkin termasuk saya terjebak oleh pengaruh harta. Kita menjadi pemburu harta, segala macam cara ditempuh guna mencapai tujuan. Suap, korupsi, penipuan, pencurian, pencucian uang dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk konspirasi yang dilakukan oleh harta.

 

Apakah kita masih ingin menjadi milik harta? Apakah kita masih ingin diperbudak oleh harta? Atau apakah kita menjadi bagian dari pemburu harta? Apabila demikian maka sebaiknya mulai sekarang untuk merubah prilaku kita, prilaku yang memiliki nilai-nilai kebenaran. Prilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran merupakan indikator suatu kebahagiaan, apabila kita ingin bahagia maka integrasikan nilai-nilai kebenaran tersebut dalam diri kita dan jadikan nilai-nilai kebenaran tersebut sebagai filter atas pengaruh-pengaruh negatif yang sewaktu-sewaktu dapat merusakan tatanan sikap dan jiwa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Adsense Indonesia

Most Reading

Tags

Sidebar One